anak muda · cerita manusia

Respon Time

Happy woman on peak of the mountain enjoying the success, freedom and bright future.
diambil dari By Bedneyimages / Freepik

Apa yang terlintas dipikiran kalian, kalo ada orang yang curhat, dia udah males sama hidup. Dia putus asa. Entah karena kerjaan, keluarga, pacar? Kira-kira kalian bakal ngerespon apa? Kebanyakan adalah ini:

“semangat yaa”

It’s Bulshit!! Serius.

Itu sama sekali gak ada artinya. Bakal cuma dianggap kentut. Dan dibales dengan senyum getir. Gini, aku bukan mau menghakimi atau menyalahkan orang yang kasih semangat. Tapi, bukan itu yang mereka butuhkan. “Semangat” itu udah basi.

Basi mading udah terbit.

Percaya atau enggak, pelukan dan kalimat “aku selalu ada disini, kapan pun kamu butuh. Kamu bisa cerita apa aja”. Itu lebih dari cukup. Memastikan bahwa mereka ga sendirian. Memastikan bahwa mereka akan didengar. Respon “kurang ibadah dan kurang bersyukur” cuma bikin mereka semakin sedih.

Lanjutkan membaca “Respon Time”

Iklan
anak muda · cerita manusia · curhat

Terima kasih Bu

Membandingkan produk shampo agar rambut tampak lebat dan ikal tentu sudah biasa.

Membandingkan handpone satu dengan yang lain juga sudah biasa. Tapi jika membanding anak sendiri, tentu bukan hal biasa dan wajar. Meski banyak terjadi oleh siapa saja!

Bagi saya, hidup selama 20 lebih ini saja sudah penuh dengan perbandingan. Adik selalu lebih baik, lebih unggul, sudah bukan rahasia lagi. Sosok sempurna tanpa cela. Bahkan cela itu bisa dimaklumi. Kecuali cela yang saya lakukan.

Susah bergaul, nilai rapot yang jauh dari sempurna cukup menggambarkan betapa rebel dan sulitnya saya jadi manusia yang bisa diterima. Ditambah lagi sering dibully, sering tak dianggap, semakin membuat image bahwa saya segitu jahatnya dan ga pantas punya teman emang benar adanya.

Memasuki masa kerja, yang saya kira akan berjalan dengan baik-baik saja, nyatanya juga masih saja dipenuhi penolakan. Benturan sana-sini. “makanya jadi orang yang ramah, makanya jangan judes, jangan jutek kaya Ayahmu, jangan suka perintah-perintah yang bikin orang ga suka, mungkin kamu dipindah karena pernah menyakiti perasaan yang lain”.

Tanpa ibu saya tau, setiap hari, setiap saya menginjakkan kaki di kantor, saya berusaha melupakan kesedihan saya jauh di belakang, saya berusaha untuk kuat dan tegar. Saya berusaha menyapa kawan atau kolega, “hal yang 10 tahun lalu bahkan mungkin tak terpikirkan sama sekali”. Usaha saya sia-sia. Usaha saya ingin memaafkan diri ini, ingin memeluk diri ini apa adanya sia-sia. Saya kembali marah. Saya mulai menangis lagi. Pikiran membenci diri sendiri hadir lagi.

“Terimakasih bu, sudah membuat anakmu insecure lagi”

Jutek dan judes seperti apa dibayangkan, saya kok ndak paham. Bahkan membentak di kantor saja saya tidak pernah. Saya lebih sering diam jika ada menyakiti atau membuat saya ga nyaman.

Selama ini saya pikir, saya sudah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Ternyata belum cukup. Nasib sial ternyata masih saya alami.

“aku belajar banyak dari adekmu, dia belajar di rantau, berat hidup jauh, tapi dia berusaha enjoy”, kata ibu saya suatu waktu.

Adik saya selalu yang terbaik. Saya hanya ampasnya. Saya kebagian salah-salahnya.
Hampir selalu saya yang salah. Iya salah saya juga saya dibully, salah saya juga ga punya teman, salah saya juga dipindah-pindah divisi dalam masa 1,5 tahun di kantor, iya saya yang salah karena sudah begitu menyebalkan.

Rasanya gak pantas membicarakan cela atau kekurangan adik saya. Semua terlalu silau dengan segala yang dia punya. Kepintaran, mudah begaul, banyak teman, ramah, hidup di negara orang. Berbanding terbalik dengan saya kan, yang hanya menghabiskan oksigen. Tidak bermanfaat dan tidak bisa belajar dari saya, saya payah.

Tapi kalo kata @AdjieSanPutro

“Tak semuanya adalah salahmu. Tak semua pula adalah salah orang lain. Semua sudah baik adanya. Semua akan indah pada akhirnya. Tak perlu dipikir bagaimana caranya. Percayalah saja”

anak muda

Freelance

Sejak adik menerima beasiswa studi di Jepang selama kurang lebih 2-5 tahun, praktis di rumah saya hanya tinggal dengan Ibu. Sebenarnya ada tante dan sodara saya yang juga tinggal satu rumah. Tapi mau bagaimanapun, dari bangun tidur sampai sebelum pergi kerja, lalu pulang lagi ke rumah, saya yaa selalu ketemu ibu dibanding yang lain. Jadi mari kita anggap yang lain tidak tinggal serumah, karena jarang bertemu dan ngobrol satu sama lain. Hubungan yang agak aneh. Tapi yaaa it’s my life. Heheheeee.

Kalo semisal, hari ini saya menikah, ibu saya bakal kesepian berkali-kali lipat dong yaa? Yang bantu buang sampah, nyapu, ganti sprei, belanja di toko online sekerdar beli tas lucu atau jam, sesederhana forward kiriman email siapa lagi kalo bukan saya. Tapi yaa namanya manusia saya nih kadang yaaa suka emosi. Mengerutu lah. Ngomel. Saya kok ga iklhas sih yaaa. Hiks.

Lanjutkan membaca “Freelance”

cerita manusia

Biru

foto by amrazing

Hai….

Lama nih ga nulis. Ciyeee pada kangen dan nunggu tulisan saya yaaa? hahahaaaaa *pede banget lu*

Hahahaaaa. Daripada mulai insecure dengan “halah siapa juga yang mau sudi ngeluangin baca blog saya yang remahan malkis ini”. yak kan…..

Eniwei, saya kangen nulis. Saya ga nulis bukan ga mau, hanya kadang ga sempat. Dan bingung aja gak ide buat konten blog ini. Selain karena akreditasi kantor yang bikin saya nyaris gila.

Kalian suka sama satu warna tertentu pernah ada sejarahnya ga sih? Atau ya, hanya sebatas suka tanpa alasan?

Kalo saya, setelah dipikir, ditelaah, direnungkan, dimantapkan dan bertemu dua pihak keluarga. *ini ngomongin warna apa mau nikah sih*. Saya suka warna biru ternyata ada sejarah panjangnya. Tenang, ga akan sepanjang sejarah perang kemerdekaan kok.

More

cerita manusia

Berteman Kehilangan

Sudah lebih dari 2  minggu saya berteman dengan kehilangan.

Ini pertama kali merasakan kehilangan yang begitu besar. Seseorang yang hampir setiap hari bertemu, bertegur sapa. Seseorang yang selalu ada.

Kepergiannya yang begitu mendadak membuat saya yang hingga hari ini merasa masih tak percaya bahwa sosoknya sudah tak lagi ada. Sosoknya sudah lagi tidak bisa saya jumpa. Dia sudah berkawan dengan bumi.

Sosok yang sebulan lalu masih rajin memposting artikel dan cerita di FB yang hampir setiap kali saya buka Facebook, postingan itu muncul paling atas. Sekarang tidak ada lagi artikel atau petuah kehidupan di FB dan artikel kesehatan darinya.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi teman, kerabat, juga kami, karyawannya. Kepergiannya meninggalkan kehilangan yang terasa berat. Disaat kantor sedang berjuang. Disaat kami sedang tumbuh.

Tidak ada lagi sosok pemimpin, sosok atasan yang saya hormati. Tidak ada lagi yang akan menyuruh saya untuk mengerjakan dokumen. Beliau meninggalkan begitu banyak cerita. Meninggalkan harapan yang belum terwujud. Bahwa saya merasa kadang dia masih ada. Dia hanya pergi hingga tidak ada yang tau kapan akan kembali.

Selamat jalan pak (dr. Rawan Broto, Sp-PD-KR).

 

cerita manusia

Terima Kasih Semesta

20170427_130723
Foto by Alexander Thian

13 Mei

Adakah dari kalian yang pernah merasa salah jalan, tapi putar baliknya terasa jauh sekali sehingga kayaknya mustahil. Apa yang kalian kerjakan sekarang gak sesuai dengan hati kecil. Bahwa bukan ini yang kalian inginkan?? Saya sedang mengalaminya.
“Passion saya ga disisni”

Buat saya yang masih bermasalah dengan insecurities, komentar negatif yang diterima sering kali semakin menghambat dan menambah jalan terjal untuk kembali ke jalan yang dirasa benar. Apapun hal baik yang coba saya kerjakan atau upayakan selalu terlihat salah. Selalu kurang.

Lalu lelah mulai datang kala sedang berjuang, berproses.

Ingin rasanya berhenti.

Lanjutkan membaca “Terima Kasih Semesta”

cerita manusia

Sekali Lagi Tentang Insecure…

Beberapa hari yang lalu melihat buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat; Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik” di timeline twitter. Sepertinya menarik dan saya lagi butuh asupan gizi soal semacam ini…

Dan akhirnya kemarin buku itu terbeli juga. Heheeee.

Halaman pertama berkisah tentang seorang penulis yang berkali-kali gagal. Semua tulisan yang dia kirim ke surat kabar, penerbit, semua ditolak. Karena menganggap tulisannya buruk, kacau, sampah. Karena hal ini ia mengalami depresi berat. Hidup seperti gelandangan, suka mabuk-mabukan dan narkoba. Hampir 50 tahun ia hidup seperti itu. Hingga satu ketika datang kesempatan dari editor. -Tidak dijelaskan apa alasan editor itu-. Tapi ia yakin ini adalah kesempatan yang ia punya. Singkat cerita, tawaran tadi dia terima. Dan tahun berikutnya, novelnya laris manis. Dia menjadi penulis terkenal.

Dia jujur pada dirinya sendiri dan mengakui hal paling buruk yang ada pada dirinya. Dia mengakui bahwa dia pencundang, selalu gagal. Merasa pencundang adalah suatu kewajaran.

More